Siswadi. 2002. Kolam Penampung Sebagai Alternatif Pengendalian Banjir di Simpang Lima Semarang
Simpang Lima merupakan bagian dari kota Semarang dengan kondisi elevasi antara 0% - 15% dan potensial terjadi genangan. Keadaan ini disebabkan saluran drainase yang kurang mampu dalam menampung air hujan akibat sedimentasi. Penanganan genangan penting dilakukan agar Semarang terhindar dari banjir (genangan). Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat kolam penampung sementara. Dalam studi ini yang menjadi pertanyaan adalah seberapa besar limpasan air yang terjadi di Simpang Lima karena Q10 tahun, seberapa besar dimensi kolam penampung yang dapat dibangun di Simpang Lima semarang dengan Q10 tahun. Seberapa besar kemampuan kolam penampung dalam mengurangi volume genangan. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui dimensi kolam penampung yang dapat dibangun di Simpang Lima Semarang, sebagai alternatif pengendalian genangan air hujan.
Data yang tersedia untuk dilakukan analisis adalah data hujan yang diambil dengan perekam alat otomatis selama 11 tahun yaitu dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2000. Periode ulang diambil 10 tahun. Analisis curah hujan dengan agihan Log pearson Type III untuk mendapatkan curah hujan rancangan kota Semarang. Analisis debit banjir rancangan dengan hidrograf satuan sintetik Dr. Nakayasu untuk mendapatkan debit banjir rancangan DAS Simpang Lima Semarang. Kapasitas kolam penampung didasarkan pada konsep dasar keseimbangan neraca air. Tampungan merupakan selisih antara masukan (inflow) dan keluaran (outflow). Selisih terbesar merupakan volume yang harus ditampung kolam. Analisis dimensi kolam penampung dengan rumus atematika volume kubus.
Debit banjir DAS Simpang Lima Semarang berdasarkan puncak banjir DAS yang dihitung dengan hidrograf satuan sintetik Dr. nakayasu sebesar 9,333 m3/dtk pada jam kedua (t2). Dimensi kolam penampung yang dapat dibangun di Simpang Lima Semarang adalah tinggi kolam (H) 0,40 m, dengan panjang kolam (P) 225 m, lebar kolam (L) 150 m. Kemampuan kolam penampung dalam mengurangi genangan adalah sebesar 12413, 11 m3.
Data yang tersedia untuk dilakukan analisis adalah data hujan yang diambil dengan perekam alat otomatis selama 11 tahun yaitu dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2000. Periode ulang diambil 10 tahun. Analisis curah hujan dengan agihan Log pearson Type III untuk mendapatkan curah hujan rancangan kota Semarang. Analisis debit banjir rancangan dengan hidrograf satuan sintetik Dr. Nakayasu untuk mendapatkan debit banjir rancangan DAS Simpang Lima Semarang. Kapasitas kolam penampung didasarkan pada konsep dasar keseimbangan neraca air. Tampungan merupakan selisih antara masukan (inflow) dan keluaran (outflow). Selisih terbesar merupakan volume yang harus ditampung kolam. Analisis dimensi kolam penampung dengan rumus atematika volume kubus.
Debit banjir DAS Simpang Lima Semarang berdasarkan puncak banjir DAS yang dihitung dengan hidrograf satuan sintetik Dr. nakayasu sebesar 9,333 m3/dtk pada jam kedua (t2). Dimensi kolam penampung yang dapat dibangun di Simpang Lima Semarang adalah tinggi kolam (H) 0,40 m, dengan panjang kolam (P) 225 m, lebar kolam (L) 150 m. Kemampuan kolam penampung dalam mengurangi genangan adalah sebesar 12413, 11 m3.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar